ANTARA HARAPAN DAN KENYATAAN
Karena semalam sudah dari Sumenep dan tiba di Surabaya pas menjelang adzan subuh, lalu dilanjut kuliah subuh di Sidoarjo, maka badanpun butuh istirahat. Capek juga bersahabat dengan aspal sepanjang hari dan malam. Sementara malam ini harus ke Sumenep lagi untuk menghadiri Pengajian Akbar Rutin Malam Jum'at Legi, Tambhana Atè. Biasanya, ribuan jamaah yang menghadiri acara ini.
Kami memilih berangkat ke Sumenep naik pesawat saja. Hitung-hitung hemat tenaga dan membantu icon Sumenep. Terjadwal di ticket bahwa pesawat akan berangkat jam 12.45 WIB. Kami tiba di bandara Juanda jam 11.30 WIB. Setelah check ini dan masuk ruang tunggu, diumumkan bahwa pesawat delay ke jam 14.00 WIB. Kamipun duduk menunggu. Diumumkan lagi bahwa pesawat ditunda ke jam 16.00 WIB. Kami hanya bisa geleng-geleng. Kami pun berusaha rileks di lounge singosari. Jam 14.00 WIB kami check ke counter menanyakan kepastian jam berapa berangkat. Disuruhlah kami ke gate kembali. Dan ternyata pesawatnya baru berangkat. "Mendadak" katanya.
Tak ada permintaan maaf dari Lion/Wings Air. Bukan kami saja korbannya hari ini, ada banyak yang lainnya. Bukan hanya yang route ke Sumenep, ada juga yang kisahnya sama namun destinasi berbeda. Apakabar Juanda International Airport? Apakabar Lion/Wings Air? Di mana "profesional" berada?
Andai bukan karena acara mendesak, tak mungkin naik pesawat ke Sumenep. Jalan darat lebih asyik dengan nuansa jalan khas Madura lengkap dengan wajah lugu pedagang ikan di pinggir pantai. Warna-warni perahu juga bisa menghibur hati.
Bersyukur masih ada waktu. Saudaraku pemilik Sam Mobil 24 jam siap mendukung jalan dakwah. Berangkatlah kami dengan Sam Mobil menuju Sumenep. Semoga senantiasa jaya Saudaraku H. SAMHARI. Untuk jamaah, kamj datang agak lambat malam ini. Inilah kenyataan yang tak sesuai dengan harapan. Ambil hikmahnya saja. Bismillah, meluncur via darat. Salam, AIM
